KEPALA BPMKB KABUPATEN SUBANG MENJAWAB BERITA BOHONG

Membaca  Surat  Kabar Umum  Bidik Kasus  Edisi 044/Tahun ke -5  halaman 4 yang bersambung ke halaman 10  disayangkan  dan dirasa  mencederai  amanat  kebebasan Pers  dan Kode Etik Jurnalistik, pasalnya wartawan  yang  memuat  berita  KEPALA  BPMKB  KABUPATEN SUBANG  DIDUGA  SUNAT DANA  PENGADAAN  LAP TOP  TAHUN 2012  ceroboh  dan  abai  terhadap  fakta  yang  ada.  Dari  semua  berita  yang dimuat  harian  ini sebagian  besarnya  adalah  DUGAAN,  yang  dengan  demikian  justru  berita  berita  yang dimuat  bertentangan  dengan  Selogan  Harian  Surat  Kabar  ini  yaitu TEGAS JELAS REALITAS.


Bagaimana  mungkin  selogan  REalitas  Surat  Kabar  Bidik Kasus  tersebut  di  atas  dapat menjadi  realita  yang  pantas  untuk dimuat  sebagai berita  dan dijadikan  sajian  publik  bila  Wartawan  yang membuat  karya  jurnalistiknya   abai  terhadap  kode etik  jurnalistik  dan  tidak berusaha  untuk  mau  membaca  dan  memahami  regulasi suatu  kebijakan  Pemerintah  bahkan  tidak  melakukan  konfirmasi  secara  berimbang  terhadap  sumber  berita  yang  akan  dimuat.
Surat  Kabar  ini  memberitakan  bahwa  Kepala  BPMKB  Kabupaten Subang  SYAWAL diduga  sunat dana  pengadaan  Lap Top  tahun 2012,  kecerobohan  pertama  yang   memalukan dari surat  kabar  ini  adalah  pemuatan  nama  Syawal  sebagai  Kepala  BPMKB, karena  pada  tahun2012  tersebut  Syawal  belum menjabat  Kepala  BPMKB  sehingga   berita  ini  menjadi  tidak akurat  sebagai  konsumsi  berita  yang  disajikan  untuk publik.
Lebih jauh  keengganan  wartawan  untuk  melakukan  konfirmasi kepada  sumber  berita  secara  seimbang  dan  ketidak  mauan  untuk  membaca regulasi  menjadi  awal ketidak  mampuan  wartawan surat  kabar  ini  untuk  membuat  berita  yang  realistis  sebagai  upaya  pembelajaran masyarakat  terhadap  makna  kebebasan Pers  yang  berkorelasi  dengan  nama baik  subyek berita.
Keengganan  konfirmasi  secara  seimbang  yang  dimaksud  adalah   keengganan  untuk  mematuhi  asas kecermatan  terhadap  data  awal  berupa  sanggahan  Syawal  dalam  SMS  yang  dimuat  dibagian akhir  berita tersebut . Benar  adanya  bahwa  SMS  tersebut  telah  dikirim Syawal melalui  HP  yang  menyatakan  Syawal  menyanggah  penggorokan  dana  pengadaan  Lap Top dan  memiliki  dukungan  data  Administratif  yang  sangat  bermanfaat  untuk  dipertimbangkan oleh Wartawan  apakah  dugaan  tersebut  layak  tidaknya  untuk  dijadikan  keputusan  pemuatan  suatu berita.
Data  administratif  termaksud  adalah  Peraturan  Bupati  Subang  Nomor  19 Tahun 2012  tentang  Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan  dan Penggunaan  BKU D/K   Tahun Anggaran  2012  dimana  pada  Pasal  14  ayat 1 dan ayat 2  disebutkan  bahwa Pencairan  Dana  dilakukan  oleh  Kepala  DPPKAD  ke rekening  Kepala  PD BPR/LPK  yang selanjutnya  pada  Pasal  15 ayat 1,2 dan ayat  3 mengharuskan  para  PJOK   selaku  penerima  bantuan  keuangan  mencairkan sendiri  dana  Bantuannya  langsung  ke  PD BPR/LPK.
Dari regulasi  tata  cara  pencairan  di Pasal  14 dan Pasal  15  di atas menunjukkan  bahwa  berita surat kabar  Bidik Kasus  menjadi  pembodohan  dan  bahkan  fitnah  yang  ditabukan  Kode Etik Jurnalistik,  karena  mana  mungkin  penyunatan dilakukan  sementara  Dana  bantuan  pengadaan  Lap Top  dilakukan  melalui  mekanisme  Transfer  Bank  dan diambil langsung  oleh  para  PJOK.
Dukungan  administratif lain  yang digunakan  penyanggahan  SMS Syawal  kepada  wartawan  Surat  Kabar  ini  adalah,  Surat  Kepala  BPMKB  tertanggal 13  Agustus  2012  nomor  147.2/826-Ektam  kepada  Para  Camat  yang  meminta perhatian agar  pencairan  Dana  pembelian  Laptop dilakukan  langsung  oleh  masing-masing Sekretaris  Desa  selaku  PJOK  sesuai  dengan  pilihan  Merk  masing masing yang dikehendaki  oleh  setiap  Sekretaris  Desa  dan  manakala  Merk  yang  dipilih  harganya  dibawah  nilai bantuan  Rp 6.000.000,-  ( enam juta  rupiah )  maka  sisa  dana  tersebut wajib disetorkan  ke Kas Daerah  melalui  Bend 17.
Dengan  demikian  atas data  adminitratif  di atas,  maka   kalimat  Penggorokan  dana ( kalimat  yang  bernuansa  Sadisme  yang ditabukan KEJ ) menjadi  berita  yang  berisi  pembodohan  publik, sebagai  karya  Jurnalistik  yang  dibuat oleh wartawan  yang  abai  terhadap  keluhuran  profesi  Wartawan yang   yang  memiliki  azas  keluhuran moral, professional  serta  demokratis.
Menjadi  lebih  lengkap  ketidak profesionalan  wartawan Surat  kabar Bidik Kasus  yang memuat  berita  ini,  mana  kala  pada  SMS  yang  telah  menyebutkan  kesiapan  Sumber Berita untuk menunggu  dan  menunggu  konfirmasi  Wartawan  Bidik  kasus  yang  juga  dimuat  di bagian  akhir berita  tersebut, ternyata wartawan Bidik Kasus  yang  memuat Berita   di atas  malah  memilih  untuk  meyakini  sumber berita  yang  tidak  faktual untuk  diangkat  menjadi  berita  ketimbang  memilih  melakukan  konfirmasi yang   sah  untuk  mendapatkan  kebenaran  melalui penyesatan dan pemutarbalikan  fakta yang dikemas dalam  pembenaran  yang  tidak dapat  dipertanggung-jawabkan  dengan  menulis  telah  mendatangi  dan menyambangi ulang  Kepala  BPMKB  selaku sumber berita.

Lebih  memalukan lagi  dan  layak untuk  diragukan  keprofesionalan  wartawan Bidik Kasus  yang memuat  berita bohong  ini,   adalah  pengantar  surat   yang  disertakan  dalam  Koran  yang diberikan  kepada  kami  Kepala  BPMKB  yang  berisi  ancaman  untuk  menyebarkan  berita  yang  sudah dicetak  dan  tindaklanjut  secara hukum   dalam  tenggat  waktu 2 kali 24 jam  bila  tidak melakukan  tanggapan.  Surat  yang  bertendensi  sebagai  bentuk ancaman tersebut  menjadi  indikasi bahwa “ Wartawan Bidik Kasus”  yang  memuat  berita  ini memiliki  itikad  yang  buruk yang lagi  lagi mencederai  profesi jurnalistik  dan  sangat  ditabukan  oleh  Wartawan  yang menjunjung  tinggi  dan  terikat  oleh Kode Etik Jurnalistik.



SURAT TERBUKA KEPADA BIDIK KASUS ( KLIK )
Share on Google Plus

About bpmkbsubang

    Blogger Comment
    Facebook Comment

1 komentar:

  1. Kalo menarik uang kemitraan dalam setiap projectnya memang iya benar ... tapi melalui H Hasim

    BalasHapus